Reborn Tatar Sunda

"Membangkitkan Kembali Kesadaran Budaya dan Peradaban Sunda"

Tatar Sunda merupakan salah satu kawasan kebudayaan tua di Nusantara yang memiliki perjalanan sejarah panjang, sistem nilai yang kokoh, serta warisan pemikiran yang berkembang sejak masa kerajaan-kerajaan awal.

Jejak peradaban tersebut dapat ditelusuri sejak masa Tarumanagara, yang kemudian berlanjut pada masa Kerajaan Galuh, berkembang dalam tradisi pemerintahan Kerajaan Sunda, hingga mencapai puncak kejayaannya pada era Kerajaan Pajajaran.

Kosmologi

Buana Nyungcung, Buana Panca Tengah, dan Buana Larang sebagai cara pandang keteraturan semesta.

Etika Sosial

Prinsip Silih Asih, Silih Asah, silih Asuh sebagai dasar membimbing kehidupan bersama.

Harmoni

Keseimbangan antara manusia dengan alam, serta kehidupan lahir dan batin.

Namun demikian, dalam dinamika perkembangan zaman modern, nilai-nilai dasar budaya lokal menghadapi tantangan kompleks. Modernisasi seringkali menimbulkan gejala erosi nilai dan melemahnya identitas kultural. Kondisi tersebut menimbulkan kebutuhan mendesak untuk melakukan upaya revitalisasi terhadap nilai-nilai budaya yang bersumber dari kearifan lokal.

Misi Platform

Platform Tatar Sunda mengintegrasikan empat unsur dasar peradaban: Sejarah sebagai landasan faktual, Dogma sebagai fondasi nilai, Doktrin sebagai arah operasional, dan Filosofi sebagai refleksi hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Penyusunan Platform Tatar Sunda menjadi semakin relevan mengingat bangsa Indonesia menghadapi tantangan multidimensional seperti krisis moral dan konflik sosial. Nilai budaya lokal yang teruji sejarah memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inspirasi dalam membangun masyarakat yang berkarakter.

Melalui rekonstruksi sejarah dan penggalian filosofi secara sistematis, diharapkan terbentuk suatu kerangka pemikiran yang menjadi rujukan bagi generasi masa kini dan masa depan. Platform ini adalah langkah strategis dalam menjaga kesinambungan identitas budaya Tatar Sunda untuk peradaban Indonesia.

"Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, larangan teu meunang dirempak."

Mulang ka Beranda